Rabu, 08 Agustus 2012

Mengapa kebaikan sering memaksa?


Masuk sekolah? Masuk kerja? Adalah hal baik setidaknya menurut pandangan banyak orang. Tapi mengapa kebaikan itu sering memaksa?  Gara-gara tadi pagi baca berita tentang upaya FPI untuk melarang pementasan Lady Gaga, aku terbersit pikiran yang menjadi judul posting ini. Belajar, sekolah, kerja, beribadah, tertib lalu lintas, buang sampah pada tempatnya, dan banyak kebaikan lagi yang menjadi alasan orang untuk memaksa orang lain. Apakah karena legitimasi bahwa itu kebaikan maka dibenarkan adanya pemaksaan?
Bahkan dalam beberapa workshop yang pesertanya aktivis sosial, aku menemui pola sikap yang kurang lebih sama. Karena atas nama rakyat, maka aktivis sosial bersikap “memaksa” agar tuntutannya dipenuhi pihak lain. Bila tidak, maka akan ada konsekuensi negatif yang diberikan.
Apa dampaknya ketika kebaikan digunakan untuk memaksa? Kebaikan menjadi dijauhi oleh orang-orang. Kok bisa? Secara alami, orang enggan dipaksa. Pemaksaan mungkin akan diterima secara eksplisit tapi secara implisit tetap menolak pemaksaan tersebut. Contoh, anak yang dipaksa sekolah akan masuk sekolah tapi sikapnya disekolah mencerminkan keengganan bersekolah.
Sebaliknya dengan apa yang dinilai oleh sebagai keburukan yang justru jarang menggunakan pemaksaan. Mengapa tidak ada training korupsi? Karena orang belajar korupsi secara alami dan organik. Tidak perlu ada reward & punishment.
Apa yang terjadi ketika keburukan jarang memaksa? Orang menjadi lebih nyaman dan akrab dengan keburukan. Keburukan berteman dengan orang-orang, bukan memusuhinya. Keburukan memahami orang-orang, bukan mengajarinya.
Manusia pada dasarnya tetaplah anak kecil. Ketika disuruh seperti dilarang, ketika dilarang seperti disuruh. Anak kita malas makan? Iming-iming dengan makanan dan laranglah ia makan. Anak kita malas gosok gigi? Tunjukkan asyiknya gosok gigi dan laranglah.
Mau terus memaksa atau memaksa diri untuk lebih kreatif dalam menyebar kebaikan?


Sumber : Bukik's ideas

Selasa, 07 Agustus 2012

Rezeki dipatuk pepatah basi

Aku pernah merasa aneh ketika aku akan bangun siang, tak sedikit orang yang ngomong "Hey, jangan bangun siang, nanti rezeki mu dipatuk ayam." ironisnya mereka mengatakan itu hampir pada semua orang yang tidak bangun pagi. Aku sempat berpikir, ada apa dengan mereka?.
Begitu miskinkah manusia yang bangun siang, karna rezekinya harus diperebutkan oleh kaum unggas? Dalam hal ini TUHAN seperti mendapat hinaan, betapa pelit dan terbatasnya kekuasaan TUHAN. Untuk mendapatkan rezeki saja semua manusia harus bangun pagi rebutan sama ayam pula. (-_-!).
seperti ada yang aneh dengan budaya ini,  bagaimana dengan mereka yang bekerja dari malam hingga katakanlah jam 2 subuh dan tidur melampaui pagi? apakah mereka ini termasuk manusia yang merugi?. Tak ada yang salah dengan bangun pagi jika memang ada sesuatu yang harus dan ingin dikerjakan,Tapi tolong bagi kalian yang bangun beraktifitas pagi dan yang bangun cuma buka keylock hp, ngopi, rokok nonton siaran musik pagi(kadang ada yang sleeping back :p) dan yang memenuhi panggilan boss, :p dengarlah bahwa rezeki itu tak hanya untuk mereka yang sombong dengan bangun pagi nya..